Posted by: Harry W. S | January 25, 2007

Pengalaman di bumi serambi mekkah

kemaren2 saya buka album foto2 saya, dan saya menemukan beberapa album foto mengenai pengalaman saya di NAD pasca tsunami. ini menarik, karena ada beberapa kenangan yang tak terlupakan. jadi ceritanya begini.

suatu hari di bulan Desember 2005, saya dan teman2 PSIK plus berencana untuk membuat film dokudrama yang bisa membangkitkan semangat rakyat Aceh pasca bencana alam dan perjanjian AMM. jadi dibuatlah rencana, skenario film, story board, bla bla bla sampai akhirnya kita2 jadi berangkat untuk syuting pada bulan April 2006 dengan biaya dan peralatan pas-pasan. kita hanya punya 1 kamera panasonic MD1000, 2 mic, 1 mixer, 2 lampu 1000 W dan 1 lampu 500 W. syuting dilaksanakan di Meulaboh dan Sabang, ceritanya mengadaptasi dari kisah seorang anak korban bencana yg sekarang di tempat penampungan dan seorang pang laot. para pemerannya adalah anak-anak korban bencana dan penduduk lokal sekitar lokasi syuting. waktu berangkat, dana kami minim sekali, bahkan kami sampai terancam bisa pergi tanpa bisa pulang. modal kami hanya semangat dan keinginan untuk menyampaikan ide/gagasan/pesan kita (kami) kepada masyarakat Aceh melalui film.

kemudian, berangkatlah 18 orang kru film pemberani (karena berani mengorbankan waktu, kuliah, UTS, demi untuk menyampaikan gagasan) dan berhasil menginjakkan kakinya di bumi serambi mekkah. kebetulan, beberapa kru film kami tidak asing dgn kondisi Aceh pasca bencana. Sutradaranya, Faizal Riza (Astronomi ITB 97) biasa dipanggil Ical, adalah relawan ITB yang diberangkatkan ke Aceh ketika terjadi bencana. bahkan, dia sendiri berangkat 2 kali menjadi relawan. lalu saya sendiri, yang adalah koordinator pengiriman dan persiapan relawan ITB ketika terjadi bencana. artinya, saya yg memberangkatkan dan mempersiapkan saudara Ical untuk berangkat menjadi relawan disana. satu lagi ada saipul (teknik sipil ITB 99) yang memang berasal dari Aceh dan punya banyak kenalan disana. keuntungannya, kami punya jaringan yang bisa membantu kami dalam kelancaran proses syuting. saipul yang punya kontak ke BRR berhasil memanfaatkan jaringannya. jadinya kami dapat transportasi 2 mobil kijang gratis dari BRR. lalu, karena lokasi syutingnya di Meulaboh, tentunya kami harus punya kenalan disana. dan beruntungnya, waktu terjadi bencana, kami (relawan ITB) memfokuskan bantuan di Meulaboh dengan mendirikan posko bantuan disana. jadinya, kami punya kenalan banyak di Meulaboh yang siap membantu kami. terutama dari Komandan KOREM 012/Teuku Umar Meulaboh, dari dialah kami mendapat tempat menginap, makan, dan transportasi tambahan selama di Meulaboh. Terima kasih pak Komandan.

lalu, proses syuting berjalan. dan inilah beberapa dokumentasi kegiatan saya:sa400208.JPG

foto diatas menunjukkan salah satu lokasi syuting kami di Meulaboh, yaitu di pusat pendidikan anak Children Center UNICEF di tempat penampungan Lapang. di foto ini dpt dilihat sutradaranya yang sedang sibuk menulis.

sa400050.JPG

foto diatas menunjukkan suasana syuting di salah satu tempat penampungan. saya yang mengenakan ikat kepala slayer merah sedang mengatur sound. anda juga dapat melihat pemeran utama kami yang anak kecil yang sedang naik sepeda. ada pengalaman menarik disini. kan pemeran filmnya kami ambil dari masyarakat lokal sekitar lokasi syuting. dan mereka sama sekali tidak punya pengalaman akting. jadi kami harus melakukan pelatihan akting dengan singkat. akibatnya, banyak beberapa adegan harus diambil ulang karena aktingnya tidak pas, atau tidak sesuai dengan skenario. tetapi berbeda dengan para pemeran utama film ini, yang masih SD kelas 5. akting mereka cukup bagus, ya setidaknya masih layak untuk difilmkanlah. ini karena mereka sebelumnya bergabung di kelompok teater anak-anak, dan biasa tampil di atas panggung. jadi kalo masalah akting tidak canggung lagi.

yah, itu secuil hasil dokumentasi saya. masih banyak yang lainnya, tp tidak dpt saya taruh di blog ini karena space yg terbatas. pengalaman kami yang menarik di Meulaboh ialah, dengan anak2 korban bencana di tempat pengungsian. kami jd tersentuh perasaannya, dan timbul empati yang dalam. akibatnya, semangat kami makin tinggi. padahal, dana semakin minim, dan sama sekali belum ada ongkos pulang ke bandung. meskipun begitu, syuting harus jalan terus. karena kami percaya, salah satu media yang sangat efektif dalam menyampaikan suatu pesan/gagasan, adalah melalui film. jadi kalo film ini tidak jadi, kami tidak akan bisa menyampaikan pesan-pesan moral kami. Jadi, syuting jalan terus, dan sekarang lokasi syuting pindah ke ujung paling barat Indonesia, pulau Sabang.

dari Meulaboh, kami berlanjut ke Sabang, dimana lokasi syuting berikutnya ada di desa pantai putih. lokasi ini dipilih karena pantainya yang indah, cocok dengan skenario yang telah dibuat di bandung. anda bisa lihat lewat foto-foto dibawah ini:

sa400012.JPG

anda bisa lihat di background foto ini, pantai putih yang indah dengan ombaknya yang tenang, dan saya yang sedang mengatur sound lewat laptop dan mixer ditemani oleh sang pencatat skenario yang manis. sori kalo namanya tidak bisa saya sebutkan disini, bahaya nanti.

ada cerita menarik ketika saya kesini. sistem perikanan lokal di desa ini diatur oleh seorang tetua, yang biasa dipanggil Pang Laot. pang laot inilah yang mengatur, siapa dan jam berapa yang boleh pergi melaut dan yang tidak. dan para penduduk mematuhi setiap perintah atau saran dari pang laot ini. dan kalau ada masalah yang sangat serius, biasanya pang laot tidak main diktator. dia pasti mengajak masyarakat untuk bermusyawarah. dan budaya seperti ini sudah turun temurun sejak lama. hasilnya, tangkapan ikan biasanya berlimpah (karena diatur berapa banyak ikan yang boleh ditangkap), dan jarang timbul perselisihan diantara sesama pencari ikan. dan ada cerita lainnya. karena kami ga punya duit banyak, kami menumpang nginap di sebuah balai desa. kami mendirikan tenda, dan pasang genset sebagai sumber listrik kami. lalu kami juga masih menggunakan mobil kijang dari BRR lengkap dengan sopirnya. karena duit kami sangat minim, berpengaruh kepada menu makanan kami. ya terpaksalah kami makan seadanya, kadang cuma nasi liwet doank. tapi lain cerita dengan sopir kami ini. karena mereka terbiasa membawa bos-bos besar yang selalu makan mewah dan tidur dengan nyaman, mereka (sopir kami ini) jadi tidak bisa makan bersama kami yang cuman nasi dan ikan teri, dan juga tidur bersama kami didalam tenda beralaskan lantai papan yang tidak nyaman. dan mereka mengeluh ke saya karena saya sebagai penanggungjawab program. akhirnya saya relakan jugalah duit kami yang pas-pasan untuk ongkos makan supir serta penginapan. Biadab. gak bisa sama-sama merasakan susah. padahal kami melakukan ini karena kemanusiaan, kami sama sekali tidak mengambil keuntungan materi dari pembuatan film ini. sama sekali tidak ada keuntungan materi. malah rugi yang ada. saya sendiri sebagai mahasiswa yang masih diberi sedekah oleh orang tua masih mengeluarkan duit tabungan jutaan rupiah sampai saya hutang segala demi bisa berangkat ke Aceh. hanya karena alasan morallah saya rela mengeluarkan seluruh duit dan waktu yang saya miliki. dari sini saya belajar, bahwa uang bukanlah segala-galanya. tapi segala-galanya butuh uang. Damn!

ceritanya belum selesai. kebetulan di Sabang, dari skenario kami menggunakan para penduduk lokal sebagai figuran, dan ada juga yang sebagai pemeran pembantu utama. kalo yang figuran masih lumayan, upahnya cuma minta dibeliin kopi dan minum. itu tidak masalah, karena mereka juga yang mengijinkan kami untuk menggunakan balai desa sebagai tempat tinggal. tapi yang menjadi pemeran pembantu utama, sangat bermasalah. dia adalah seorang pemain film yang biasa tampil dalam video klip musik daerah. ketika kami minta untuk akting sesuai dengan skenario yang kami buat, dia tidak bisa menghapal dialog. akibatnya, dia melakukan improvisasi sendiri. yang kacaunya, improvisasinya tidak sesuai dengan arahan skenario. ternyata, penjiwaannya berbeda dengan tuntutan skenario. ok, masalah itu bisa diatasi meskipun kami harus mengambil adegan berulang kali sampai mampus. yang bikin saya lebih sakit kepala, dia minta bayaran setara pemain film lokal profesional. dia minta dibayar 500rb per adegan. alamakjang, padahal kemampuan dia jauh dari itu. dia hanya pantas untuk saya bayar sebesar, paling mahal, 50rb per 5 adegan. dan dia malah ga mau dibayar semurah itu. akibatnya, dia sempat menghilang dari jadwal syuting yang seharusnya. jadi kacaulah semua jadwal. akhirnya, saya bertemu dengan orang yang merekomendasikan dia untuk menjadi pemeran pembantu kami. kita sebut perantara ini dengan mr perantara. jadi saya minta mr perantara ini untuk mencari solusi bagaimana caranya membayar upah pemeran pembantu kita ini. setelah saya bujuk-bujuk, dan saya jelaskan posisi keuangan kami seperti apa, serta kemampuan akting dia yang payah, akhirnya mr perantara setuju untuk menanggulangi upah pemeran pembantu ini. alhamdulillah, saya tidak perlu keluar uang untuk sesuatu yang tidak worth untuk dikeluarkan.

demikianlah pengalaman kami di Sabang yang bisa saya share. lalu dari sabang, kami berencana pulang kembali ke bandung dengan singgah dahulu ke rumah saya di medan. tapi kami punya masalah, yaitu ga ada ongkos sama sekali. duit hanya cukup untuk penyeberangan dari sabang ke banda aceh. dari banda ke medan, apalagi ke bandung, tidak ada duit sama sekali. untung ada saipul, jungkir balik dia mencari duit untuk kami supaya bisa pulang. saya sendiri terus terang, saya sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mencari duit. jaringan saya di Aceh, cuma pak komandan dan teman2 di children center doank. gak mungkin saya minta duit ke pak komandan setelah service dari dia di Meulaboh yang edan-edanan. minta duit ke jaringan saya di jakarta? lagi kosong semua. di Medan? sudah habis. di Bandung? habis juga. cuma saipul lah yang mampu, dengan modal teman-teman dia di Aceh dan Medan. tengkyu pul. disini saya belajar, pentingnya punya banyak kenalan dan jaringan. sebuah pelajaran yang sangat berharga, karena menyangkut hidup saya dan kru film yang lain.

kami mengalami masa-masa yang sulit. dilema antara idealisme dan kenyataan. meskipun saya sudah menyebar proposal kemana-mana, perusahaan dan alumni, tapi karena ini program yang tidak menghasilkan keuntungan materi, jadinya tidak banyak yang bisa memberikan dukungan dana kepada kami. dilematis, satu sisi kami punya idealisme, sisi lain kami tidak punya dukungan dana. pilihan yang kami tempuh adalah pilihan yang sulit, tetap mempertahankan idealisme kami. tak peduli kami bakal kelaparan atau terlantar di tempat yang asing, program ini harus jalan terus. dan hasilnya, kami tetap bisa pulang ke bandung, dan sebelumnya singgah dulu ke rumah saya di medan.

kami singgah ke medan, karena setelah dihitung-hitung, lebih murah pulang dari medan daripada langsung dari banda aceh. saat itu tiket pesawat harganya 700rb-an. sedangkan kalo naik bus banda aceh-medan, harganya 115rb. tiket pesawat medan-jkt cuman 400rb-an. murah kan? kemudian sampailah kami di rumah saya di medan. karena kru film pada lelah semua, kami beristirahat 1 malam sekalian keliling kota medan. kebanyakan kru kami tidak pernah bepergian keluar dari pulau jawa. jadi saya bawalah mereka jalan-jalan ke brastagi dan keliling kota medan, mencicipi salah satu masakan yang tidak dijumpai di daerah lain. kerang rebus khas medan. kebetulan duriannya lagi gak musim, jadi gak ada yg jual.

yah, demikianlah pengalaman kami selama syuting film di Aceh. banyak pelajaran berharga yang saya ambil. sebelumnya saya telah ceritakan tentang dilema antara idealisme dengan kenyataan. lainnya adalah sikap profesionalisme, menjalankan program sesuai target dan waktu, dan mengesampingkan segala kepentingan pribadi demi keberhasilan program. lainnya, kesimpulan yang saya peroleh, bahwa kemanusiaan itu ternyata barang mahal dan langka.

sa400031.JPG

dan inilah kami para kru film di HUT KOREM 012/Teuku Umar, beserta pak komandan yang baik hati berdiri ditengah-tengah kami. saya sebut PSIK plus, karena para kru bukan hanya dari PSIK ITB doank, tp ada juga dosen SR ITB dan mahasiswa UNPAS, UNJANI, dan YPKP.


Responses

  1. Emang iya Ri, kemanusiaan itu barang yang sangat mahal sekarang. Kenapa ‘barang’? Karena biarpun mahal, sekarang udah bisa dibeli. Ya.. biarpun ngga bisa pukul rata semua pribadi.

    Proposal kita yang ke Jakarta, apa kabarnya? Karena ngga ada profit buat mereka, [selain amal sosial pastinya], then it’s just all about trash for them. Motherfucker banget ngga sih? Hehehe..

    Udah ah, masa disuruh komen sama yang punya blog sendiri? Udah gw komenin nih, kekekekk…

    *****Hidup PSIK!!!****

  2. wahh… asik euy, bakal ada oleh2 dari aceh…

    eh, sejak kapan si Oon jadi kameramen?

  3. ah, itu cuman utk sesi poto doank. oleh2nya udah habislah, nanti ga tau jadi ato ga bakal ke aceh lg. doain aja.

  4. Ceritanya sangat menarik dan menyentuh hati. Kenapa tidak minta bantuan ke pada pengusaha film? Berapa rupanya harga membuat film ini?

  5. harganya sih buat ukuran kita lumayan mahal, sekitar 60jtan. well, karena film ini bukan utk komersil, kita jadi ragu kalo ada yg mau biayain pembuatan film ini. lagian, kalo ga salah riri riza jg membuat proyek yg sama. sudah tentu nama dia lebih dilirik pengusaha film. tp ga pa pa, kita masih semangat kok.

  6. semangat 45 saja… tapi kalo dipikir semangat jaman perang ama sekarang beda. kalau dulu nenek moyang kita suka perang melawan penjajah, tapi sekarang kita yang ingin berteman dengan mereka… dan kayaknya film yang sedang dibuat itu bagus, hanya saja kalian kurang beruntung dalam dana.. seharusnya kalo ada yang ingin berbuat baik menyampaikan isi moral di tolong, bukan hanya dilihatin dan dinikmati. tapi percuma saja, yah jangan heran saja kalau indonesia seperti inilah…(kecewa berat gw)

  7. cerita dan pengalaman nya sangat luar biasa.
    aku salut denga perjuangan nya.
    mungkin pengalaman itu buat pelajaran kita smua.
    sukses selalu.

  8. remember ALLAH always……

  9. Pengalaman yg LuaR Biasa dan menyentuh hati…🙂

    wie
    slm hangat mahasisa/i batam

  10. ya.. untuk pengalaman yang berharga pastinya buth pengorbanan yg setimpal. Pastinya ini akan berguna entah tahun depan 5 th, 10 th dstnya semua ga bakal ada yg sia-sia.. good job..

  11. http://fizaldotcom.wordpress.com

  12. bagi donk videonya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: