Posted by: Harry W. S | November 25, 2005

KRISIS GLOBAL DAN PARADIGMA BARU

Kontributor Harry W. S.
Tuesday, 20 September 2005

Banyak bukti menunjukkan bahwa bumi tidak lagi mampu bertahan pada kondisi aktivitas ekonomi seperti sekarang ini. Aktivitas ekonomi dunia terus meningkat 4% tiap tahunnya dan diperkirakan terus meningkat. Salah satu faktor peningkatan ini ialah peningkatan pertumbuhan populasi dunia, yang diperkirakan akan 2x lipat antara 1990 dan 2050. Faktor lainnya ialah peningkatan konsumsi per kapita, yang bahkan pertumbuhannya melebihi pertumbuhan populasi manusia. Jika terus dibiarkan, maka masa depan umat manusia dalam beberapa tahun ke depan akan berada dalam krisis parah dan berkepanjangan.

Paradigma ekonomi yang sekarang berkembang dimulai setelah PPD ke II, dan telah menjadi agenda ekonomi dan politik kebanyakan negara. Tujuannya ialah mengintegrasikan ekonomi lokal ke dalam ekonomi global dalam rangka meningkatkan produksi industri (dan peningkatan produksi membutuhkan konsumsi sumber daya yang lebih tinggi juga). Akan tetapi, peningkatan produksi ekonomi tidak juga mengatasi kesenjangan sosial yang ada, dan bahkan tidak mampu mengatasi kebutuhan dasar sekitar 1 M penduduk miskin dunia. Jika 20% dari total penduduk dunia berada pada kondisi sangat makmur, setidaknya 20% lainnya menderita “kemiskinan absolut?. Tidak mengherankan jika banyak negara miskin dan berkembang beserta NGO internasional menolak kebijakan-kebijakan ekonomi internasional, seperti koalisi Seattle menolak perundingan WTO di Seattle (1999), dan aktivis dunia menolak perundingan negara-negara G8 di Skotlandia (2005).

Krisis Global

Terdapat 5 krisis yang melanda dunia sekarang ini. Pertama, krisis politik. Globalisasi dunia telah melemahkan institusi politik negara dan pemerintahan lokal, dan mengurangi potensi dari pilihan kebijakan yang ada. Terdapat dua faktor penyebab, (a) utang yang menjerat, dan (b) pergerakan modal investasi yang meningkatkan kompetisi pajak internasional dan mengurangi pendapatan negara. Kedua, krisis sosial-ekonomi. Meskipun aktivitas ekonomi meningkat, kemiskinan global tidak juga menurun. Dari sekitar 6M penduduk dunia, sekitar 1,1M diantaranya menderita malnutrisi, yaitu tidak mampu memperoleh kalori yang dibutuhkan untuk bekerja secara penuh dan kesehatan yang baik. Lebih dari 40& penduduk dunia tidak mendapatkan akses terhadap sanitasi. Dan 20 dari 23 kota di negara berkembang melebihi standar kualitas udara yang ditetapkan WHO terhadap partikel udara tersuspensi dan emisi sulfur dioksida. Pembuangan limbah industri, polusi, dan ketersediaan air bersih, merupakan ancaman tetap terhadap populasi penduduk dan menyebabkan pemiskinan yang lebih jauh. Ketiga, krisis lingkungan. Penipisan ozon dan efek rumah kaca menyebakan perubahan iklim secara drastis, erosi dan penggundulan mengurangi produktivitas alam secara biologis, kontaminasi air dan tanah oleh limbah mengurangi kualitas makanan, sumber daya alam dikonsumsi lebih cepat daripada kemampuan regenerasinya, dan keanekaragaman hayati terus menurun. Keempat, krisis psikologi. Terdapat 2 fenomena, yaitu “promosi aktif? dan “ toleransi pasif?. Promosi aktif seperti potret kehidupan zaman sekarang melalui iklan media. Media komersil telah memonopoli pengalaman audio-visual orang, melalui konsumerisme, dan stereotip. Toleransi pasif seperti pengabaian orang-orang terhadap krisis di sekitarnya, sibuk dengan diri sendiri dan dunia sendiri. Kelima, krisis epistemologi. Banyak isu penting seperti kelangsungan hidup manusia, perubahan iklim, penggundulan hutan, dan perilaku destruktif manusia, hanya bisa melahirkan keprihatinan. Keprihatinan ini tidak bisa ditranslasikan menjadi prediksi masa depan, namun hanya dieksplorasi melalui kemungkinan-kemungkinan dan menyederhanakan model. Saintis, sebagai organ syaraf utama di masyarakat, tidak mampu memastikan implikasi di masa depan maupun menghasilkan sejumlah panduan tindakan dalam menyikapi krisis global.

Paradigma baru

Untuk menyikapi krisis ini, suatu pendekatan ditawarkan oleh komisi PBB untuk lingkungan dan pembangunan (WCED) pada tahun 1992, yaitu pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai “pembangunan yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan generasi sekarang ini tanpa mengurangi kesempatan bagi generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan yang sama?. Dengan kata lain, ekonomi konvensional untuk maksimalisasi produksi harus re-orientasi dan diarahkan untuk meminimalisasi penderitaan mayoritas umat manusia masa kini dan masa depan.

Hal ini bergantung pada, pengurangan kerusakan lingkungan- melalui pengurangan sumber daya alam yang tidak terbarukan, dan mencari sumber daya alternatif- dan, peningkatan kualitas hidup manusia (akses mudah terhadap air bersih, udara bersih, rumah yang layak huni, pendidikan berkualitas, kesehatan, makanan bergizi, dll). Secara sederhana, berkelanjutan berarti hidup harmonis berdampingan dengan alam.

Namun konsep ini masih muda dan reaktif, sehingga perkembangannya lambat. Konsep ini menuntut perubahan paradigma ekonomi dan kualitas hidup, dimana kenyataannya kebutuhan dasar rakyat miskin tidak terpenuhi dan tingkat konsumsi sekarang yang melebihi kapasitas alam untuk mampu memenuhi kebutuhan generasi mendatang. Meskipun konsep ini telah berumur belasan tahun, di Indonesia sendiri konsep ini hanya wacana di kalangan akademisi dan NGO tertentu. Dengan adanya krisis sekarang ini di Indonesia, sekarang adalah momentum yang tepat untuk melakukan perubahan.

Paradigma pembangunan berkelanjutan merupakan jawaban alternatif terhadap krisis global dan lokal, yang telah dibuktikan keampuhannya di Las Gaviotas, Kolombia. Persoalan yang dihadapi bukanlah persoalan lingkungan, melainkan persoalan demokrasi, dimana setiap rakyat memiliki kesempatan dan akses yang sama terhadap air bersih, udara bersih, rumah layak huni, sanitasi, pendidikan yang layak, kesehatan, dan komunitas.


Responses

  1. ck…ck…………….
    serius kli bentuk tulisannya nih

  2. semoga paradigma pembangunan bisa diterapkan diindonesia, saya hanya bisa berusaha & berdoa, amin.

  3. tolong kasus johar semarang dibahas dengan konsep tersebut


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: