header image
 

Elang, dan beberapa spesiesnya di dunia

Elang dikenal sebagai burung pemangsa berukuran besar, memiliki kemampuan terbang yang kuat, sayap yang lebar, paruh yang besar dan tajam, serta kuku yang kuat. Elang juga memiliki penglihatan tajam untuk melihat mangsa dari jarak yang jauh. Dengan kemampuan seperti ini, elang menempatkan dirinya berada di puncak rantai makanan pada ekosistem dimana dia berada.

Kebanyakan elang merupakan penghuni dunia lama. Seluruh jenis elang termasuk ke dalam ordo Falconiformes (atau Accitriformes, menurut skema klasifikasi alternatif). Hampir seluruh Falconiformes pemakan daging (karnivora). Elang memiliki rentang umur yang panjang, dan laju reproduksi yang rendah. Seluruh elang berpasangan secara monogami.

 Struktur rangka dan otot elang yang unik membuat burung ini memiliki kemampuan terbang jarak jauh, elang Steppe mampu menempuh jarak sejauh 4000 mil dari kawasan Asia tengah hingga ke kawasan Afrika. Tulang pada burung elang (dan burung-burung besar seperti albatros atau vulture) memiliki sifat pneumatic (rangka memiliki rongga yang dipenuhi oleh udara). Selain sifat tulang, kemampuan terbang jarak jauh juga ditunjang oleh modifikasi otot dan sayap. Berat otot pada burung elang terletak pada pusat gravitasinya, sayap berukuran besar dan lebar untuk memudahkan aliran udara menaikkan tubuhnya. Sifat tulang, berat otot, dan ukuran sayap yang unik ini membuat elang dengan bobot 7 Kg menjadi seringan bulu ketika terbang. Selain itu juga dapat membuat elang mampu terbang tanpa mengepakkan sayapnya. Kita dapat lihat ketika elang soaring di udara, sayapnya terbentang dengan lebar tanpa dikepakkan. Sayap dikepakkan biasanya untuk menambah kecepatan terbang, terutama ketika berburu mangsa.

Beberapa jenis yang terkenal:

1. Tawny Eagle (Aquila rapax)

Morfologi

elang1.jpg

Memiliki panjang tubuh 62-72 cm, dan rentang sayap 165-185 cm. Kepala dan tubuh bagian bawah berwarna coklat muda. Tubuh bagian atas memiliki warna bervariasi, mulai dari coklat tua hingga coklat kepucat-pucatan. Ujung sayap berwarna putih. Betinanya berukuran lebih besar daripada jantan. Paruh memiliki bercak hitam pada ujungnya.

Biologi

Elang Tawny termasuk kedalam famili Accipitridae.

Burung ini berkembang biak sebagian besar di Afrika, sebelah utara dan selatan gurun Sahara, dan sepanjang barat daya tropis Asia hingga India. Elang Tawny lebih menyukai habitat terbuka seperti gurun, semi-gurun, stepa, atau savana, dari ketinggan 0 m dpl hingga ketinggan 2400 m dpl.

Burung ini bersarang antara bulan Maret dan Juli pada batang pohon yang besar, biasanya dari keluarga Akasia, atau pada permukaan tanah. Telur yang dihasilkan berjumlah 1-3 telur, dengan masa inkubasi 39-44 hari.

Perilaku

Elang Tawny memakan bangkai dari sisa makanan hyena atau burung kondor, mencuri makanan pemangsa lain, memangsa mamalia dari ukuran sebesar kelinci hingga tikus, serta memangsa reptil seperti ular.

Elang Tawny mengeluarkan suara “kyow” melengking seperti gagak. tetapi secara umum burung ini termasuk pendiam, kecuali ketika display.

Sumber:

http://www.nature-wildlife.com/teag.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Tawny_Eagle

foto: http://www.kenyabirds.org.uk/teagle.htm

 

2. Elang Filipina (Pithecophaga jefferyi)

Morfologi

elang2.JPG

Kepala burung ini memiliki bulu yang panjang sehingga menyerupai kepala singa. Tubuh bagian atas berwarna coklat, dan tubuh bagian bawah berwarna putih. Betina berukuran rata-rata panjang 1 m, berat 7 kg, dan panjang sayap mencapai 2 m. Paruh berwarna hitam.

Biologi

Elang filipina merupakan salah satu burung raptor hutan terbesar dan terkuat di dunia. Tetapi elang ini juga merupakan elang terlangka di dunia. Elang ini endemik di Filipina, khususnya di pulau Luzon, Samar, Leyte, dan Mindanao. Habitatnya pada hutan tropis dari ketinggian 750 m hingga 1590 m.

Elang Filipina digolongkan ke dalam famili Accipitridae.

Elang Filipina memiliki pasangan monogami seumur hidup. Sarang biasanya di pohon-pohon dipterokarp yang emergen, letak sarangnya antara 27 m hingga 50 m dari atas tanah. Dimensi sarangnya antara 1,2 x 1,2 m hingga 1,2 x 1,7 m.

Betina menghasilkan 1 telur setiap berbiak, dengan masa inkubasi 58-68 hari. Burung dewasa akan menjaga telur dan anaknya selama 20 bulan, sehingga masa berbiak hanya bisa dilakukan setahun sekali. Betina mencapai usia matang seksual pada umur sekitar 5 tahun, dan jantan 7 tahun.

Rentang umur elang Filipina di alam liarnya tidak diketahui. Namun dari hasil pengamatan terhadap elang Filipina yang dikandangkan, memiliki umur hingga 41 tahun. Tetapi karena keadaan di alam liar lebih tidak terkontrol dibandingkan dengan keadaan di kandang, diperkirakan umur elang ini di alam liar lebih pendek daripada elang Filipina yang dikandangkan.

Perilaku

Makanan elang ini bervariasi antara jenis dan ukuran mulai dari monyet, bajing loncat, kelelawar, hingga burung berukuran besar seperti rangkong. burung juvenil belajar berburu tanpa intervensi dari parentalnya. Elang Filipina merupakan pemangsa oportunis dengan preferensi mangsa adalah spesies-spesies yang hidup di atas pohon.

elang3.JPG
Ketika akan berbiak, perilaku display di udara mulai dilakukan. Perilaku seperti soaring berpasangan, kejar-kejaran (betina terjun diagonal di ikuti oleh jantan mengejar dari belakang), dan presentasi talon berpasangan, tercatat selama pengamatan pada sepasang elang Filipina pada awal juli 1999.

Pola perkembangan juvenil ditunjukkan pada tabel di bawah ini (Kennedy, 1985):

Age when the head is held up

7-10 days

Stood momentarily

25-27 days

First wing flapping

32 days

First pin feathers appear in scapulars

37 days

Walking

45 days

First eating by itself

54 days

First time off nest

118-151 days

Fledged (departed nest tree)

130-164 days

Started to wander from nest area

246-288 days

First observed kill

304 days

Last seen in parent’s home range

640 days

Rentang umur elang Filipina di alam liarnya tidak diketahui. Namun dari hasil pengamatan terhadap elang Filipina yang dikandangkan, memiliki umur hingga 41 tahun. Tetapi karena keadaan di alam liar lebih tidak terkontrol dibandingkan dengan keadaan di kandang, diperkirakan umur elang ini di alam liar lebih pendek daripada elang Filipina yang dikandangkan.

Sumber:

http://www.philippineeagle.org/pe/pe1.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/Philippine_Eagle

 

3. Blyth Hawk Eagle (Spizaetus alboniger)

Morfologi

Burung berukuran sedang dengan panjang tubuh 51-58 cm. Dewasa memiliki garis pita hitam pada ekor, tubuh bagian atas berwarna hitam, strip hitam putih pada dada, dan memiliki jambul di kepala.

elang4.JPG

Biologi

Elang hitam putih tergolong ke dalam famili Accipitridae.

Distribusinya tersebar di semenanjung Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan. Habitatnya pada hutan terbuka, bukit dan hutan pegunungan hingga ketinggian 1980 m dpl.

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Blyth%27s_Hawk-eagle

 

4. Steppe Eagle (Aquila nipalensis)

Morfologi

Burung ini memiliki panjang tubuh 62-74 cm, dan rentang sayap 165-190 cm. Perbedaannya dengan elang Tawny adalah ukurannya yang besar dan warna bulunya yang lebih gelap. Berat tubuhnya antara 2500-4000 gram.

elang5.JPG

Biologi

Seperti elang lainnya, elang Steppe tergolong ke dalam famili Accipitridae.

Burung ini bermigrasi pada musim dingin dari Rumania timur hingga Mongolia ke India dan Afrika. Elang Steppe menyukai habitat terbuka seperti gurun, semi-gurun, stepa, atau savana.

Burung ini hampir identik dengan elang Tawny, kecuali secara morfologi.

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Steppe_Eagle

foto: http://www.mangoverde.com/birdsound/picpages/pic30-208-1.html


5. Golden Eagle (Aquila chrysaetos)

Morfologi

Elang emas memiliki panjang tubuh rata-rata 75-85 cm, rentang sayap 150-210 cm, dan berat tubuh 3-5 Kg. Secara umum betina lebih besar daripada yang jantan. Tubuhnya berwarna coklat tua, kecuali pada leher dan kaki berwarna emas, serta pada bagian tengah sayap berwarna coklat muda.

elang6.JPG

Biologi

Habitat elang emas bervariasi dari hutan pegunungan yang lembab hingga padang rumput. Burung ini terdistribusi di Eropa dan Asia.

Sarangnya berada di tebing atau di pohon-pohon yang tinggi. Ukuran sarangnya mencapai diameter 2 m dan tinggi 1 m.

Elang emas berpasangan secara monogami seumur hidup. Betina mengeluarkan telur antara bulan Januari dan Maret. Telur akan menetas setelah 45 hari. Anakan diberi makan oleh induknya sebelum mampu melakukan percobaan terbang pertama selama 50 hari.

Perilaku

Elang emas berburu secara berpasangan. Pasangan yang satu memojokkan mangsa, dan pasangan lainnya menangkap mangsa. Mangsa burung ini sebagian besar adalah mamalia berukuran sedang seperti marmut dan tikus, rubah, dan rusa muda.

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Golden_Eagle

http://www.sdakotabirds.com/species/golden_eagle_info.htm

foto: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/b4/GoldenEagle3.jpg

Pengalaman di bumi serambi mekkah

kemaren2 saya buka album foto2 saya, dan saya menemukan beberapa album foto mengenai pengalaman saya di NAD pasca tsunami. ini menarik, karena ada beberapa kenangan yang tak terlupakan. jadi ceritanya begini.

suatu hari di bulan Desember 2005, saya dan teman2 PSIK plus berencana untuk membuat film dokudrama yang bisa membangkitkan semangat rakyat Aceh pasca bencana alam dan perjanjian AMM. jadi dibuatlah rencana, skenario film, story board, bla bla bla sampai akhirnya kita2 jadi berangkat untuk syuting pada bulan April 2006 dengan biaya dan peralatan pas-pasan. kita hanya punya 1 kamera panasonic MD1000, 2 mic, 1 mixer, 2 lampu 1000 W dan 1 lampu 500 W. syuting dilaksanakan di Meulaboh dan Sabang, ceritanya mengadaptasi dari kisah seorang anak korban bencana yg sekarang di tempat penampungan dan seorang pang laot. para pemerannya adalah anak-anak korban bencana dan penduduk lokal sekitar lokasi syuting. waktu berangkat, dana kami minim sekali, bahkan kami sampai terancam bisa pergi tanpa bisa pulang. modal kami hanya semangat dan keinginan untuk menyampaikan ide/gagasan/pesan kita (kami) kepada masyarakat Aceh melalui film.

kemudian, berangkatlah 18 orang kru film pemberani (karena berani mengorbankan waktu, kuliah, UTS, demi untuk menyampaikan gagasan) dan berhasil menginjakkan kakinya di bumi serambi mekkah. kebetulan, beberapa kru film kami tidak asing dgn kondisi Aceh pasca bencana. Sutradaranya, Faizal Riza (Astronomi ITB 97) biasa dipanggil Ical, adalah relawan ITB yang diberangkatkan ke Aceh ketika terjadi bencana. bahkan, dia sendiri berangkat 2 kali menjadi relawan. lalu saya sendiri, yang adalah koordinator pengiriman dan persiapan relawan ITB ketika terjadi bencana. artinya, saya yg memberangkatkan dan mempersiapkan saudara Ical untuk berangkat menjadi relawan disana. satu lagi ada saipul (teknik sipil ITB 99) yang memang berasal dari Aceh dan punya banyak kenalan disana. keuntungannya, kami punya jaringan yang bisa membantu kami dalam kelancaran proses syuting. saipul yang punya kontak ke BRR berhasil memanfaatkan jaringannya. jadinya kami dapat transportasi 2 mobil kijang gratis dari BRR. lalu, karena lokasi syutingnya di Meulaboh, tentunya kami harus punya kenalan disana. dan beruntungnya, waktu terjadi bencana, kami (relawan ITB) memfokuskan bantuan di Meulaboh dengan mendirikan posko bantuan disana. jadinya, kami punya kenalan banyak di Meulaboh yang siap membantu kami. terutama dari Komandan KOREM 012/Teuku Umar Meulaboh, dari dialah kami mendapat tempat menginap, makan, dan transportasi tambahan selama di Meulaboh. Terima kasih pak Komandan.

lalu, proses syuting berjalan. dan inilah beberapa dokumentasi kegiatan saya:sa400208.JPG

foto diatas menunjukkan salah satu lokasi syuting kami di Meulaboh, yaitu di pusat pendidikan anak Children Center UNICEF di tempat penampungan Lapang. di foto ini dpt dilihat sutradaranya yang sedang sibuk menulis.

sa400050.JPG

foto diatas menunjukkan suasana syuting di salah satu tempat penampungan. saya yang mengenakan ikat kepala slayer merah sedang mengatur sound. anda juga dapat melihat pemeran utama kami yang anak kecil yang sedang naik sepeda. ada pengalaman menarik disini. kan pemeran filmnya kami ambil dari masyarakat lokal sekitar lokasi syuting. dan mereka sama sekali tidak punya pengalaman akting. jadi kami harus melakukan pelatihan akting dengan singkat. akibatnya, banyak beberapa adegan harus diambil ulang karena aktingnya tidak pas, atau tidak sesuai dengan skenario. tetapi berbeda dengan para pemeran utama film ini, yang masih SD kelas 5. akting mereka cukup bagus, ya setidaknya masih layak untuk difilmkanlah. ini karena mereka sebelumnya bergabung di kelompok teater anak-anak, dan biasa tampil di atas panggung. jadi kalo masalah akting tidak canggung lagi.

yah, itu secuil hasil dokumentasi saya. masih banyak yang lainnya, tp tidak dpt saya taruh di blog ini karena space yg terbatas. pengalaman kami yang menarik di Meulaboh ialah, dengan anak2 korban bencana di tempat pengungsian. kami jd tersentuh perasaannya, dan timbul empati yang dalam. akibatnya, semangat kami makin tinggi. padahal, dana semakin minim, dan sama sekali belum ada ongkos pulang ke bandung. meskipun begitu, syuting harus jalan terus. karena kami percaya, salah satu media yang sangat efektif dalam menyampaikan suatu pesan/gagasan, adalah melalui film. jadi kalo film ini tidak jadi, kami tidak akan bisa menyampaikan pesan-pesan moral kami. Jadi, syuting jalan terus, dan sekarang lokasi syuting pindah ke ujung paling barat Indonesia, pulau Sabang.

dari Meulaboh, kami berlanjut ke Sabang, dimana lokasi syuting berikutnya ada di desa pantai putih. lokasi ini dipilih karena pantainya yang indah, cocok dengan skenario yang telah dibuat di bandung. anda bisa lihat lewat foto-foto dibawah ini:

sa400012.JPG

anda bisa lihat di background foto ini, pantai putih yang indah dengan ombaknya yang tenang, dan saya yang sedang mengatur sound lewat laptop dan mixer ditemani oleh sang pencatat skenario yang manis. sori kalo namanya tidak bisa saya sebutkan disini, bahaya nanti.

ada cerita menarik ketika saya kesini. sistem perikanan lokal di desa ini diatur oleh seorang tetua, yang biasa dipanggil Pang Laot. pang laot inilah yang mengatur, siapa dan jam berapa yang boleh pergi melaut dan yang tidak. dan para penduduk mematuhi setiap perintah atau saran dari pang laot ini. dan kalau ada masalah yang sangat serius, biasanya pang laot tidak main diktator. dia pasti mengajak masyarakat untuk bermusyawarah. dan budaya seperti ini sudah turun temurun sejak lama. hasilnya, tangkapan ikan biasanya berlimpah (karena diatur berapa banyak ikan yang boleh ditangkap), dan jarang timbul perselisihan diantara sesama pencari ikan. dan ada cerita lainnya. karena kami ga punya duit banyak, kami menumpang nginap di sebuah balai desa. kami mendirikan tenda, dan pasang genset sebagai sumber listrik kami. lalu kami juga masih menggunakan mobil kijang dari BRR lengkap dengan sopirnya. karena duit kami sangat minim, berpengaruh kepada menu makanan kami. ya terpaksalah kami makan seadanya, kadang cuma nasi liwet doank. tapi lain cerita dengan sopir kami ini. karena mereka terbiasa membawa bos-bos besar yang selalu makan mewah dan tidur dengan nyaman, mereka (sopir kami ini) jadi tidak bisa makan bersama kami yang cuman nasi dan ikan teri, dan juga tidur bersama kami didalam tenda beralaskan lantai papan yang tidak nyaman. dan mereka mengeluh ke saya karena saya sebagai penanggungjawab program. akhirnya saya relakan jugalah duit kami yang pas-pasan untuk ongkos makan supir serta penginapan. Biadab. gak bisa sama-sama merasakan susah. padahal kami melakukan ini karena kemanusiaan, kami sama sekali tidak mengambil keuntungan materi dari pembuatan film ini. sama sekali tidak ada keuntungan materi. malah rugi yang ada. saya sendiri sebagai mahasiswa yang masih diberi sedekah oleh orang tua masih mengeluarkan duit tabungan jutaan rupiah sampai saya hutang segala demi bisa berangkat ke Aceh. hanya karena alasan morallah saya rela mengeluarkan seluruh duit dan waktu yang saya miliki. dari sini saya belajar, bahwa uang bukanlah segala-galanya. tapi segala-galanya butuh uang. Damn!

ceritanya belum selesai. kebetulan di Sabang, dari skenario kami menggunakan para penduduk lokal sebagai figuran, dan ada juga yang sebagai pemeran pembantu utama. kalo yang figuran masih lumayan, upahnya cuma minta dibeliin kopi dan minum. itu tidak masalah, karena mereka juga yang mengijinkan kami untuk menggunakan balai desa sebagai tempat tinggal. tapi yang menjadi pemeran pembantu utama, sangat bermasalah. dia adalah seorang pemain film yang biasa tampil dalam video klip musik daerah. ketika kami minta untuk akting sesuai dengan skenario yang kami buat, dia tidak bisa menghapal dialog. akibatnya, dia melakukan improvisasi sendiri. yang kacaunya, improvisasinya tidak sesuai dengan arahan skenario. ternyata, penjiwaannya berbeda dengan tuntutan skenario. ok, masalah itu bisa diatasi meskipun kami harus mengambil adegan berulang kali sampai mampus. yang bikin saya lebih sakit kepala, dia minta bayaran setara pemain film lokal profesional. dia minta dibayar 500rb per adegan. alamakjang, padahal kemampuan dia jauh dari itu. dia hanya pantas untuk saya bayar sebesar, paling mahal, 50rb per 5 adegan. dan dia malah ga mau dibayar semurah itu. akibatnya, dia sempat menghilang dari jadwal syuting yang seharusnya. jadi kacaulah semua jadwal. akhirnya, saya bertemu dengan orang yang merekomendasikan dia untuk menjadi pemeran pembantu kami. kita sebut perantara ini dengan mr perantara. jadi saya minta mr perantara ini untuk mencari solusi bagaimana caranya membayar upah pemeran pembantu kita ini. setelah saya bujuk-bujuk, dan saya jelaskan posisi keuangan kami seperti apa, serta kemampuan akting dia yang payah, akhirnya mr perantara setuju untuk menanggulangi upah pemeran pembantu ini. alhamdulillah, saya tidak perlu keluar uang untuk sesuatu yang tidak worth untuk dikeluarkan.

demikianlah pengalaman kami di Sabang yang bisa saya share. lalu dari sabang, kami berencana pulang kembali ke bandung dengan singgah dahulu ke rumah saya di medan. tapi kami punya masalah, yaitu ga ada ongkos sama sekali. duit hanya cukup untuk penyeberangan dari sabang ke banda aceh. dari banda ke medan, apalagi ke bandung, tidak ada duit sama sekali. untung ada saipul, jungkir balik dia mencari duit untuk kami supaya bisa pulang. saya sendiri terus terang, saya sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mencari duit. jaringan saya di Aceh, cuma pak komandan dan teman2 di children center doank. gak mungkin saya minta duit ke pak komandan setelah service dari dia di Meulaboh yang edan-edanan. minta duit ke jaringan saya di jakarta? lagi kosong semua. di Medan? sudah habis. di Bandung? habis juga. cuma saipul lah yang mampu, dengan modal teman-teman dia di Aceh dan Medan. tengkyu pul. disini saya belajar, pentingnya punya banyak kenalan dan jaringan. sebuah pelajaran yang sangat berharga, karena menyangkut hidup saya dan kru film yang lain.

kami mengalami masa-masa yang sulit. dilema antara idealisme dan kenyataan. meskipun saya sudah menyebar proposal kemana-mana, perusahaan dan alumni, tapi karena ini program yang tidak menghasilkan keuntungan materi, jadinya tidak banyak yang bisa memberikan dukungan dana kepada kami. dilematis, satu sisi kami punya idealisme, sisi lain kami tidak punya dukungan dana. pilihan yang kami tempuh adalah pilihan yang sulit, tetap mempertahankan idealisme kami. tak peduli kami bakal kelaparan atau terlantar di tempat yang asing, program ini harus jalan terus. dan hasilnya, kami tetap bisa pulang ke bandung, dan sebelumnya singgah dulu ke rumah saya di medan.

kami singgah ke medan, karena setelah dihitung-hitung, lebih murah pulang dari medan daripada langsung dari banda aceh. saat itu tiket pesawat harganya 700rb-an. sedangkan kalo naik bus banda aceh-medan, harganya 115rb. tiket pesawat medan-jkt cuman 400rb-an. murah kan? kemudian sampailah kami di rumah saya di medan. karena kru film pada lelah semua, kami beristirahat 1 malam sekalian keliling kota medan. kebanyakan kru kami tidak pernah bepergian keluar dari pulau jawa. jadi saya bawalah mereka jalan-jalan ke brastagi dan keliling kota medan, mencicipi salah satu masakan yang tidak dijumpai di daerah lain. kerang rebus khas medan. kebetulan duriannya lagi gak musim, jadi gak ada yg jual.

yah, demikianlah pengalaman kami selama syuting film di Aceh. banyak pelajaran berharga yang saya ambil. sebelumnya saya telah ceritakan tentang dilema antara idealisme dengan kenyataan. lainnya adalah sikap profesionalisme, menjalankan program sesuai target dan waktu, dan mengesampingkan segala kepentingan pribadi demi keberhasilan program. lainnya, kesimpulan yang saya peroleh, bahwa kemanusiaan itu ternyata barang mahal dan langka.

sa400031.JPG

dan inilah kami para kru film di HUT KOREM 012/Teuku Umar, beserta pak komandan yang baik hati berdiri ditengah-tengah kami. saya sebut PSIK plus, karena para kru bukan hanya dari PSIK ITB doank, tp ada juga dosen SR ITB dan mahasiswa UNPAS, UNJANI, dan YPKP.

Terima kasih

wah, terima kasih atas komentar-komentar dari para pengunjung. sy merasa tersanjung blog sy dikunjungi dan org2 berkomentar. sekali lagi terima kasih.

kalaulah bs, sy pengen sekali berdiskusi dgn para pengunjung blog ini. sayang wordpress belum menyediakan fasilitas semacam dialogbox. mungkin kedepannya sy akan mencoba untuk membuat suatu web forum (bukan milis), dimana org2 yg punya concern terhadap indonesia dan dunia bs bergabung disitu.

terus terang, sekarang sy lagi mencoba untuk concern ke sustainable development. karena ternyata sy melihat bahwa persoalan lingkungan di Indonesia dan dunia semakin mengarah kepada kehancuran. bukan kehancuran lingkungan, tapi kehancuran umat manusia. kita bisa lihat misalnya tingkat polusi udara yg semakin tinggi. Kota Bandung memiliki krisis air yg semakin parah, dan persoalan sampah yg tidak selesai dgn tuntas. dengan krisis air spt sekarang ini saja, sy sudah sulit mandi di kos. air PAM hanya hidup di malam hari. yah, itu sekedar curhat sy.

adalah keinginan sy untuk membangun suatu komunitas peduli manusia. persoalan lingkungan menjadi trigger untuk membangun kemanusiaan yg lebih baik. tolong doakan semoga usaha ini berhasil. semoga dari web forum, terbangun komunitas yg bs melakukan banyak hal untuk kemanusiaan. AMIN!

Kekeringan

Indonesia kembali dilanda kekeringan. Jawa timur krisis air,begitu jg jawa tengah, banten, yogyakarta, dan lampung. akibatnya, daerah-daerah diatas gagal panen. konsekuensinya, pemerintah bakal impor beras, atau stok beras cadangan dikeluarkan.

Musim kering ini diperkirakan bakal berlangsung lebih lama, 8 bulan dari 6 bulan normal. penyebabnya, temperatur laut jawa yang dingin, dan angin dari australia yang membawa udara kering. apapun penyebabnya, kejadian ini merupakan kejadian biasa yang terjadi secara alami setiap tahun. yang membuatnya luar biasa, barangkali waktunya yang lebih panjang, dan ditambah blow-up dari media. kalau tahun-tahun lalu, diikuti oleh kebakaran hutan di sumatera dan kalimantan. kalau sekarang, belum ada. tapi tanda-tandanya ada, dan secara statistik, intuisi kita bisa mengatakan bakal terjadi kebakaran hutan. tinggal menunggu waktunya saja.
well, tidak bisakah kita belajar dari pengalaman tahun-tahun lalu? ini kejadian yang sama berulang setiap tahun, dan tiap tahun pula kita (pemerintah pusat dan daerah) kerepotan. yang kasihan adalah petani yang selalu rugi. siapa yang salah? alamkah? tuhankah? pemerintahkah? petanikah? apa pelajaran yang bisa kita petik?

selama ini pertanian di indonesia ditopang oleh sistem irigasi yang airnya berasal dari waduk dan tadah hujan. sebagian kecil berasal dari mata air pegunungan, dan sumur. common sense, kekeringan terjadi karena tidak ada air. mengapa? kita bisa melihatnya dari daur hidrologi/air yang biasa kita pelajari di sekolah. berjalan normalkah daur hidrologi di indonesia? well, kita bisa melacaknya satu-satu. misal, air hujan timbul dari penguapan air di bumi. penguapan terjadi kalau suhu air cukup panas dan kelembabannya cukup tinggi (sekitar 70%). lalu kita lihat keadaan di ‘lapangan’, ternyata laut jawa suhunya tidak cukup panas, dan kelembabannya rendah. ok, baru satu poin. bagaimana dengan poin lainnya, semisal, air sungai yang mengisi waduk. air sungai berasal dari mata air yang muncul dari dalam tanah, dan juga curahan air hujan. kalau air hujan sudah dijelaskan tadi, bagaimana dengan kondisi air tanahnya? mengapa debitnya kecil? akibatnya bisa dilihat dari banyaknya sumur warga yang kering, dan volume air di waduk yang mengecil. namun sebabnya, bisa bermacam-macam. LSM lingkungan hidup seperti WALHI bakal mengeluarkan statement kira-kira bunyinya, ” ini semua karena penebangan hutan”. eventhough, tidak bisakah kita mengambil pelajaran? tidak adakah solusi jangka panjang bagi persoalan menahun seperti ini? apa kita hanya bisa pasrah?

bagaimana kalau kita ambil sudut pandang lain, misalnya dari sistem pertaniannya sendiri. bisakah sistem tanamnya dirotasi, misalnya kalo musim kering kita menanam tanaman yang sesuai seperti palawija.

well, saya tidak ingin gegabah untuk mengatakan para petani kita tidak pintar untuk beradaptasi dengan musim. daerah banten terkenal dengan sistem tanam tradisionalnya yang mampu bertahan sejak jaman kerajaan dulu. Bali dulu juga begitu, sebelum sistem pertaniannya beralih ke sistem modern. lalu dimana masalahnya?

well, kalau pemerintah tidak merasa sanggup, lebih baik turun saja. kalau petani aja sanggup, mengapa tidak pemerintah? kalau saya sanggup, lebih saya aja.

Your results:
You are Green Lantern

Green Lantern
75%
Iron Man
65%
Supergirl
63%
Catwoman
60%
The Flash
60%
Superman
60%
Spider-Man
55%
Robin
50%
Wonder Woman
48%
Batman
40%
Hulk
35%
Hot-headed. You have strong
will power and a good imagination.

Click here to take the "Which Superhero am I?" quiz…